Menyatukan Visi Prestasi: Akuatik Indonesia dan Erick Thohir Sinkronkan Peta Jalan Menuju Olimpiade 2028–2032 – Olahraga akuatik Indonesia memasuki babak baru dalam sejarah pembinaannya. Dalam pertemuan strategis yang digelar di gates of olympus Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) pada Oktober 2025, Ketua Umum Akuatik Indonesia, Anindya Bakrie, bersama jajarannya, melakukan audiensi dengan Menpora Erick Thohir. Tujuannya jelas: menyelaraskan roadmap pembinaan dan prestasi olahraga air nasional dengan target jangka panjang menuju Olimpiade 2028 di Los Angeles dan Olimpiade 2032 di Brisbane.
Sinergi ini menjadi tonggak penting dalam upaya membangun ekosistem olahraga akuatik yang kompetitif, berkelanjutan, dan berorientasi pada prestasi dunia. Artikel ini akan mengulas secara komprehensif arah kebijakan, strategi pembinaan, target medali, serta peran pemerintah dan federasi dalam mewujudkan cita-cita besar tersebut.
Akuatik sebagai “Mother Sport”: Fondasi Prestasi Multidisiplin
Menpora Erick Thohir menegaskan bahwa akuatik, bersama atletik dan senam, merupakan cabang olahraga induk atau “mother sport” yang memiliki potensi besar untuk menyumbangkan medali di ajang internasional. Akuatik Indonesia membawahi empat disiplin utama:
- Renang
- Loncat indah
- Polo air
- Open water swimming
Keempatnya memiliki karakteristik kompetitif yang berbeda, namun sama-sama berpeluang besar untuk menembus kualifikasi Olimpiade jika dibina secara sistematis.
Roadmap Menuju Olimpiade: Tahapan Strategis dan Target Realistis
Dalam audiensi tersebut, Akuatik Indonesia memaparkan roadmap jangka panjang yang mencakup:
1. Persiapan SEA Games 2025 di Thailand
- Target: Minimal 3 medali emas
- Fokus: Renang dan polo air
- Strategi: Pemusatan latihan nasional, try-out internasional, dan seleksi ketat atlet muda
2. Asian Games 2026 di Jepang
- Target: Menembus final di beberapa nomor renang dan loncat indah
- Strategi: Pengiriman atlet ke pelatnas luar negeri dan peningkatan kualitas pelatih
3. Olimpiade 2028 dan 2032
- Target: Lolos kualifikasi A di minimal dua nomor renang
- Ambisi: Meraih medali pertama Indonesia di cabang akuatik
- Strategi: Pembinaan usia dini, beasiswa atlet ke luar negeri, dan kolaborasi dengan federasi internasional
Pembinaan Usia Dini: Kunci Menuju Standar Dunia
Salah satu fokus utama Akuatik Indonesia adalah pembinaan atlet sejak usia dini. Program ini mencakup:
- Talent scouting di 34 provinsi
- Kompetisi renang usia muda tingkat nasional
- Beasiswa pelatihan ke Australia, Jepang, dan Amerika Serikat
- Pendampingan psikologis dan nutrisi atlet muda
Tujuannya adalah menciptakan generasi perenang dan atlet akuatik yang siap bersaing di level internasional sejak usia remaja.
Dukungan Pemerintah: Penyesuaian Anggaran dan Verifikasi Program
Menpora Erick Thohir menyambut baik roadmap yang disusun Akuatik Indonesia. Ia menegaskan bahwa Kemenpora akan menyesuaikan anggaran pembinaan sesuai dengan garis besar program yang telah diverifikasi.
Langkah Konkret Kemenpora:
- Verifikasi program Akuatik Indonesia oleh tim teknis Kemenpora
- Sinkronisasi anggaran dengan target SEA Games dan Olimpiade
- Dukungan fasilitas pelatnas dan infrastruktur akuatik di daerah
Hingga Oktober 2025, Kemenpora telah menyetujui sekitar 70–80% dari proposal program Akuatik Indonesia, menunjukkan komitmen serius pemerintah dalam mendukung prestasi olahraga air.
Peran Anindya Bakrie: Kepemimpinan Visioner di Akuatik Indonesia
Sebagai Ketua Umum Akuatik Indonesia, Anindya Bakrie memainkan peran sentral dalam transformasi federasi. Ia membawa pendekatan manajerial modern, berbasis data, dan berorientasi pada hasil.
Inisiatif Utama Anindya Bakrie:
- Membangun sistem database atlet nasional
- Menjalin kerja sama dengan federasi renang Australia dan Jepang
- Mendorong transparansi dalam seleksi dan pelatihan
- Menyusun KPI (Key Performance Indicator) untuk pelatih dan pengurus
Kepemimpinan ini menjadi katalis penting dalam membangun federasi yang profesional dan juga berdaya saing global.
Tantangan dan Juga Solusi: Dari Infrastruktur hingga Mental Juara
Meski roadmap telah disusun, tantangan tetap ada. Beberapa kendala yang dihadapi antara lain:
- Minimnya kolam renang standar internasional di daerah
- Keterbatasan pelatih bersertifikasi internasional
- Kurangnya kompetisi rutin di level nasional
- Mental bertanding atlet yang belum stabil di ajang besar
Solusi yang Didorong:
- Pembangunan kolam renang indoor di 10 provinsi prioritas
- Sertifikasi pelatih melalui program FINA dan juga ASCA
- Liga renang nasional berbasis klub
- Pelatihan mental dan juga psikologi olahraga untuk atlet elite
Sinergi Menuju Prestasi Dunia: Kolaborasi yang Diperluas
Kolaborasi antara Akuatik Indonesia dan juga Kemenpora menjadi model sinergi yang ideal. Namun, untuk mencapai target Olimpiade, kolaborasi harus diperluas ke:
- Kementerian Pendidikan dan juga Kebudayaan (untuk integrasi kurikulum olahraga)
- Kementerian Kesehatan (untuk dukungan gizi dan juga kesehatan atlet)
- Pemerintah daerah (untuk pembinaan akar rumput)
- Sponsor swasta (untuk pendanaan kompetisi dan juga pelatnas)
Sinergi multisektor ini akan memperkuat ekosistem olahraga akuatik secara menyeluruh.
Penutup: Dari Jakarta ke Los Angeles, Mimpi yang Mulai Nyata
Pertemuan antara Akuatik Indonesia dan juga Menpora Erick Thohir bukan sekadar audiensi, tetapi titik awal dari mimpi besar: melihat bendera Merah Putih berkibar di podium Olimpiade cabang renang, loncat indah, atau polo air.
Dengan roadmap yang terstruktur, dukungan pemerintah yang konkret, dan juga kepemimpinan federasi yang visioner, mimpi itu bukan lagi utopia. Ia menjadi target yang bisa dicapai, asalkan konsistensi dijaga dan juga sinergi diperluas.
Indonesia punya talenta. Indonesia punya semangat. Kini, Indonesia punya arah.
